The Distortion of Indonesian Culture

I.Pendahuluan
Kebudayaan,adalah sebuah pola yang terintegrasi dari pengetahuan manusia, kepercayaan, dan perilaku. Kebudayaan, dapat didefinisikan, berisi bahasa, ide-ide, kepercayaan, kebiasaan,larangan-larangan, hukum,institusi, teknik, hasil karya seni, ritual, seremoni dan komponen lainnya yang terkait. Perkembangan kebudayaan tergantung kepada kapasitas manusia untuk belajar dan menerima pengetahuan yang kemudian diwariskan kepada generasinya.


[1]
Dengan melihat kebudayaan, sebagai contoh kebudayaan Jepang, atau kebudayaan Barat dapat dilihat nilai-nilai yang memiliki banyak perbedaan yang dijalankan didalam kedua masyarakat yang disebutkan diatas.Kebudayaan barat membentuk masyarakat yang memiliki keterbukaan, critical thinking, dsb. Di Jepang terbentuk masyarakat yang masih menganggap nilai-nilai luhur nenek moyangnya, dan nilai kekeluargaan sebagai pegangan.


Kebudayaan terbentuk melalui pola-pola hidup yang diterapkan oleh masyarakat, yang dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal masyarakat itu sendiri. Dalam kondisi internal, bentuk kebudayaan dipengaruhi oleh hubungan kekerabatan, seremonial, bahasa, hukum dsb. Oleh kondisi internal, kebudayaan dipengaruhi oleh lingkungan geografis, dan oleh berbagai faktor, kebudayaan lain yang mempengaruhi kebudayaan tersebut. Kebudayaan yang kemudian membentuk masyarakat selanjutnya. Namun, kebudayaan tidak lantas terus-menerus sebagai panutan statis pembentuk masyarakat tetapi juga dibentuk lagi oleh masyarakat. Hal ini adalah proses kreasi-interaksi antara budaya dan masyarakat. Budaya sangat berpengaruh, budaya mencerminkan pengalaman sejarah suatu bangsa, yang tertanam dalam tradisi mereka, dan membentuk sikap dan pengharapan mereka terhadap dunia. Budaya bisa menjadi pendorong atau beban yang menghambat atau mempercepat perubahan
[2]
Dengan membicarakan kebudayaan di Indonesia, cukup rumit memang untuk memahami keseluruhan budaya di Indonesia; melihat Indonesia yang multietnis dan multilinguistik, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan di Indonesia sangat beraneka ragam dan rumit. Jika ditelusuri lagi, melihat kebudayaan masyarakat Indonesia, berarti kita harus melihat kembali proses sejarah perkembangan suku-bangsa di Indonesia, dari zaman perunggu, besi, zaman pra-tradisonal, zaman tradisional, pra-modern, dan akhirnya masyarakat modern kontemporer yang ada sekarang ini. Masyarakat suku-bangsa di Indonesia telah melewati banyak tahap-tahap kreasi-interaksi kebudayaan seperti yang disebut diatas tersebut. Mulai dari scope internal di antara suku-suku bangsa indonesia sendiri, maupun oleh pengaruh eksternal kebudayaan kolonial yang menjajah bangsa ini selama tiga setengah abad. Kemudian kesadaran para pemuda-pemuda lintas etnik yang menyepakati kesatuan budaya-budaya Indonesia yang beraneka-ragam dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928 dan mencapai puncaknya pada kemerdekaan bangsa ini sebagai suatu bangsa yang berdaulat penuh. Namun dinamika kebudayaan Indonesia tidak sampai di sini, masyarakat kontemporer Indonesia masih mempengaruhi kebudayaan Indonesia masa mendatang yang memang tetap rumit.


Apa yang akan saya angkat pada essai singkat saya tentang kebudayaan Indonesia adalah sedikit dari kerumitan yang ada dalam kebudayaan Indonesia dalam interaksinya dengan masyarakat lain yang memiliki kebudayaan yang lain pula. Pada essai ini saya menanggap bahwa kebudayaan Indonesia telah sangat terdistorsi oleh kebudayaan lain yang mempengaruhi kebudayaan dasar bangsa Indonesia yang baik,seperti budaya gotong-royong, kekeluargaan dan sebagainya. Banyak sebab yang mengakibatkan hal ini, baik sebab-sebab internal maupun eksternal dari politik, ekonomi, perubahan iklim internasional seperti globalisasi dan sebagainya telah membuat kebudayaan Indonesia sendiri tidak memiliki esensi keorisinalitasannya karena berkembang secara lamban dan terlalu terpengaruh oleh budaya luar (dalam hal ini khususnya Barat), karena tidak adanya filterisasi kebudayaan luar yang negatif.


[3]
Sehingga hal ini menghambat keorisinalitasan pemikiran yang bersumber dari budaya Indonesia sendiri. Masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang tumpul dalam mengembangkan kreativitasnya sendiri, ide-idenya sendiri dan teori-teori produksi pemikiran masyarakat Indonesia secara original. Semuanya menjadikan kebudayaan Barat sebagai parameter, bukan kebudayaan bangsa Indonesia sendiri sebagai panutan.
Dalam menjawab tantangan distorsi kebudayaan ini, sedikit ide saya tentang suatu tinjauan ulang dan pengembangan kebudayaan Indonesia secara berkesinambungan, yang mungkin terkesan absurd untuk direalisasikan jika melihat kondisi masyarakat yang ada sekarang ini akan saya sampaikan. Dimana dalam mengkaji dan mengembangkan kebudayaan Indonesia sekarang ini secara berkesinambungan, hal ini harus ditunjang oleh berbagai macam aspek-aspek dalam bangsa Indonesia sendiri. Yang kemudian secara bertahap akan terbangun kembali lagi nilai-nilai dasar bangsa Indonesia yang flexible dengan kondisi zaman yang dihadapi bangsa ini, tetapi tidak kehilangan esensi keorisinalitasannya sebagai budaya asli Indonesia. Mungkin ide yang saya tuangkan, khususnya dalam bab empat sangat subyektif esensinya. Tapi ide-ide ini timbul oleh pengamatan saya secara pribadi pada masyarakt Indonesia.


II.Latar Belakang Masalah Terjadinya Distorsi Kebudayaan Indonesia
Dalam melihat permasalahan kebudayaan yang dihadapi bangsa Indonesia ini, maka perlu untuk melihat kembali apa yang telah terjadi selama ini sehingga bangsa kebudayaan Indonesia menjadi terdistorsi seperti sekarang ini. Sejak zaman kolonial Belanda masyarakat Indonesia hidup dibawah tekanan terus-menerus dari pemerintahan Belanda. Dalam menanggapi tekanan Belanda tersebut, respon yang dilakukan oleh setiap suku-bangsa yang ada di Indonesia berbeda-beda, hal ini tergantung dari budaya suku-suku itu sendiri. Di satu tempat ada yang merespon secara positif kedatangan dan pendudukan kolonial Belanda, di tempat lain ada yang negatif meresponnya, yakni dengan melakukan pemberontakan kecil-kecilan.
Dalam penjajahannya, pemerintah Belanda selalu membatasi hak-hak yang seharusnya didapatkan oleh masyarakat pribumi yakni hak atas pendidikan dan informasi. Didalam upaya Belanda membodohi masyarakat, yakni dengan iming-iming harta benda dan kedudukan serta stratifikasi sosial yang diciptakannya, kebanyakan masyarakat mau tidak mau menjadi patuh terhadap Belanda. Kebudayaan dasar bangsa Indonesia yang mengalami proses interaksi dengan Belanda dengan proses pembodohannya kemudian memunculkan budaya baru yang salah yang diaplikasikan oleh masyarakat Indonesia sendiri. jika melihat teori dialektika Hegel tentang adanya tesis memunculkan antitesis dan kemudian menjadi sintesis. Kebudayaan suku-suku di Indonesia yang dijajah (sebagai tesis) termodifikasi secara tidak langsung dengan kebijakan kolonialisasi belanda yang membodohi, kemudian membentuk asumsi dan persepsi dikalangan masyarakat (antitesis) lalu kemudian menimbulkan varian baru budaya masayarakat Indonesia, yakni budaya terjajah (sintesis).


Budaya terjajah ini kemudian menimbulkan “Belanda-Belanda” baru dikalangan masayarakat pribumi sendiri, yakni orang-orang opportunis yang mecari kesempatan dengan mengorbankan saudaranya sendiri demi kepentingan pribadi. Secara psikologis hal ini mungkin timbul di benak masyarakat Indonesia yang terjajah pada masa itu untuk melepaskan diri dari penderitaannya.


Proses menuju budaya yang salah ini terselamatkan oleh kondisi sejarah yang memang berpihak kepada bangsa Indonesia, dimana Belanda yang pada akhir abad kesembilanbelas banyak menemui masalah dalam hubungannya dengan negara lain di Eropa yang kemudian terlibat perang dengan Inggris dan Perancis (Napoleon) kemudian terkena Imbas perang dunia pertama. Pada masa ini sebagian masyarakat Indonesia yang beruntung yakni dari kalangan kaum priyayi berkesempatan untuk studi di Belanda dan mendapatkan cakrawala baru pengetahuan, dengan rasa nasionalisme yang tinggi dan berbekal pengetahuan kemudian kembali ke nusantara untuk memperebutkan hak-hak kemerdekaanya kembali. Sampailah perjuangan ini pada 28 Oktober 1928 dimana pemuda-pemudi terpelajar Indonesia yang kemudian mengikrarkan sumpahnya bahwa mereka bertanah air satu, berbahasa satu, bertumpah darah satu yakni Indonesia. Hal ini menyatukan bangsa yang multi-etnis ini sebagai suatu integrasi. Perjuangan kemerdekaan bangsa ini kemudian sampai pada saat Indonesia meraih kemerdekaannya pada bulan Agustus tahun 1945.


Dinamika kebudayaan Indonesia tidak berakhir disini, karena kemudian pemerintahan berdaulat yang ada yakni yang dipimpin oleh presiden Soekarno (Orde Lama) mengkungkung pikiran-pikiran kritis dan kreativitas-kreativitas yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia, masyarakat Indonesia tetap berada pada kondisi yang stagnan dalam kemajuan kebudayaannya, mungkin budaya dikembangkan, tetapi hanya secara parsial, tidak holistik dan hanya digunakan untuk propaganda dan alat politik. Masyarakat Indonesia tidak mempunyai daya cipta untuk meng-create sesuatu, baik itu ide maupun teori-teori.


Pemerintahan berganti dibawah kepemimpinan Soeharto, hal ini tidak juga membawa angin perubahan kepada kebudayaan Indonesia, malah menjadi semakin parah. Dengan pemerintahan yang lebih represif dan penguasa otoriter, kritik dibungkam total, media dan pers adalah corong politik pemerintahan untuk melanggengkan kekuasaan Soeharto.Teror tersebar dimana-mana bagi yang menentang. Pikiran-pikiran kritis tidak terbangun karena indoktrinasi pemimpin yang subjektif.
Seharusnya sejak Indonesia merebut kemerdekaannya dari tangan penjajah, timbul ledakan kretivitas dan ide-ide yang muncul oleh pemikirian kritis yang diproduksi oleh otak-otak cemerlang masyarakat Indonesia, namun pembodohan tetap saja dilakukan oleh penguasa yang ada. Hal ini mempertegas kebenaran pernyataan Lord Acton bahwa Power Tends to Corrupt and Absolute Power Corrupt Absolutely. Kasus diatas ini menurut ALM. Mochtar Lubis, seorang jurnalis dan budayawan adalah disebabkan oleh tidak terciptanya lingkungan politik, ekonomi, sosial dan budaya yang dapat menjadi pendorong ledakan-ledakan kreativitas pada masyarakat kita. Penguasa mengatur semuanya. Kritik dibatasi atau dilarang.


[4]
Perpanjangan dari masalah-masalah diatas merembes sampai ke segala lapisan masyarakat dari tingkat atas sampai kebawah. Dalam pengembangan kebudayaan Indonesia melalui pendidikan, pemerintahan yang ada setengah-setengah dalam menggenjot proses ini. Seharusnya melalui pendidikan di sekolah, para murid didik dapat mengembangkan kreativitasnya, bersama para pengajarnya pula. Di Indonesia, guru-guru pada semua level tidak dibayar/digaji dengan cukup, suam-suam, menjadi sangat lelah, tidak memiliki atensi pribadi untuk murid-muridnya, tidak mempunyai waktu untuk mempersiapkan ajaran-ajaran,dan tidak memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian. Para siswa melakukan kekerasan; kelompok-kelompok yang berbeda sekolah saling berkelahi; mereka harus mempelajari terlalu banyak mata pelajaran; membuang-buang waktu mereka mempelajari ideologi negara. Kualitas pendidikan sangat rendah; sekolah yang bagus sangat mahal; banyak sekolah swasta yang hanya memberi gelar-gelar saja. Singkatnya, banyak kekurangan pada koran-koran yang menulis tentang hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan.


[5]
Sekolah merupakan sarana yang baik untuk mengembangkan kreativitas anak didik dan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan Indonesia sejak dini, namun dengan ketidakseriusan yang dibangun oleh pemerintah dalam membuat suatu sistem pendidikan yang benar, dimana tidak adanya modul yang khusus mengajarkan tentang kebudayaan (khususnya era orde baru), karena takut menimbulkan sentimen etnis yang menyebabkan perpecahan. Pendekatan yang dilakukan oleh pemerintahan pada masa ini membuat anak didik mengalami misinformasi tentang budayanya sendiri yang seharusnya dikembangkan. Oleh sebab itu filter kebudayaaan pun tidak terbangun di sekolah. Padahal di sekolah sendiri pun banyak menggunakan ide-ide dari barat, karena tidak ada orang pribumi yang menghasilkan ide-ide brilian. Sehingga para anak didik mengagung-agungkan pemikiran barat dan terbuai didalammnya, tanpa memiliki critical framework untuk menganalisa lagi ide-ide tersebut.


Kebudayaan yang tidak berkembang mempunyai dampak pula pada ekonomi, jika kebudayaan seperti di Jepang yang sudah maju menekankan kedisiplinan, total quality management, dsb, sehingga dapat kita lihat Jepang menjadi seperti sekarang ini. Di Indonesia malah tercipta budaya yang malas, karena kebanyakan masyarakat terlalu mengandalkan pemerintah. Sekolah yang baik dan murah pun tidak tersedia untuk masyarakat, budaya membaca tidak digalakan sejak dini (kembali lagi karena banyak bacaan yang disortir dan dilarang oleh pemerintahan orde baru selama 30an tahun).
Karena ekonomi tidak stabil, menyebabkan kemiskinan yang juga menjadi faktor distorsi ini, dengan tidak terbangunnya suatu kondisi ekonomi yang stabil karena ketidakmerataan pembangunan pada masa lalu yang tidak memiliki lapangan kerja yang cukup padahal diiringi dengan overpopulasi. Sebagian besar masyarakat Indonesia menjadi money oriented, mereka hanya mencari uang habis-habisan untuk sesuap nasi, kriminalitas meningkat, pengangguran meningkat, dimana letak progress kebudayaan pada saat seperti ini? Masyarakat pasti akan lebih memilih untuk mencari uang demi kebutuhan dasarnya. Mengingat perkataan bahwa dengan perut yang kosong, pikiran juga pasti kosong, alias tidak bisa berpikir. Jadi tanpa adanya stabilitas ekonomi dan sudah tentu stabilitas politik. Kebudayaan menurut saya tidak akan bergerak maju, karena tidak ada insentif dari pemerintah serta dukungan stabilitas politik dan ekonomi.


Faktor penting lainnya yang tidak terelakan adalah teknologi informasi yang mulai berkembang di penghujung abad ke-20. Di satu pihak teknologi informasi memang amatlah penting untuk diketahui oleh masyarakat Indonesia, namun di sisi lain, daya serap masyarakat Indonesia tentang informasi pastilah berbeda-beda. Tanpa latar belakang pendidikan yang rendah, kemiskinan, dsb membuat tidak ada batasan antara benar dan salah dalam menilai budaya yang datang dari luar tersebut. Contoh mudahnya adalah televisi. Sejak televisi masuk, masyarakat mulai menonton acara-acara yang berasal dari luar negeri. Tidak ada batasan usia bagi siapapun untuk menonton acara-acara yang ada.Semenjak bermunculan stasiun TV swasta awal tahun 1990-an, acara-acara seperti ini sangat mudah ditemui. Dalam acara tersebut banyak sekali kandungan unsur-unsur kebudayaan barat yang masuk, seperti budaya pesta, ke diskotik, seks bebas, iklan-iklan komersial yang menyebabkan masyarakat menjadi konsumptif.Media mengeksploitasi informasi sebagai ajang komersialisasi ide-ide yang dimanifestasikan pada tayangan dan bacaan yang sering tidak memiliki makna dan tidak mendidik. Tujuannya hanya satu, memanjakan penonton didepan televisi agar terusmenonton acara-acara yang sebetulnya murahan yang diselingi dengan iklan-iklan komersil untuk menjaring pembeli.
Kemudian semakin canggih teknologi, internet yang membuat dunia jarak di dunia semakin tidak ada batasan, membuat seseorang bisa mengakses tentang apa saja, dan dimana saja. Padahal banyak sekali hal-hal yang perlu lagi disaring oleh persepsi masyarakt, namun masyarakat tidak memiliki pola pikir kebudayaan yang kritis, sehingga apa saja yang dibaca, diterima dengan mentah-mentah.


Perusahaan dari barat dengan Multi National Cooperations-nya(MNC’s) yang bernuansa kapitalistik juga memainkan perannya disini. MNC’s adalah perusahaan yang berorientasi keuntungan total, mereka melihat Indonesia adalah pasar yang sangat baik bagi mereka untuk memasarkan barang-barangnya apalagi ditambah dengan globalisasi yang mempunyai dampak buruk bagi produsen lokal. Melalui iklan dan promosi-promosi, masyarakat Indonesia tergiur untuk membeli barang-barang mereka dan saling mendahului untuk menjadi yang pertaman menggunakan produk-produk luar negeri tersebut. Karena selain (menurut masyarakat) produk luar negeri kualitasnya baik, banyak yang lebih murah harganya, produk-produk tersebut juga lebih prestigious untuk digunakan. Dengan adanya hal ini, masyarakat segala lapisan menjadi konsumptif. Hal ini disebabkan karena ide-ide yang dikomunikasikan melalui iklan, menyebabkan masyarakat Indonesia semakin menjadikan barat sebagai parameter.
Kesimpulan dari bab II ini adalah bahwa sesungguhnya kebudayaan yang terbangun di masyarakat Indonesia tidak daat lepas dari sejarah yang berkesinambungan. Peranan pemerintah untuk memberikan insentif untuk kebudayaan tidak ada, ditambah lagi dengan ketidakstabilan politik dan ekonomi. Membuat masyarakat semakin memandang kebudayaan yang original Indonesia tidak begitu signifikan untuk kehidupan realitas dimana uang dan kepuasan pribadi adalah segalanya. Globalisasi, teknologi dan informasi, pengaruh asing juga memainkan peranan penting disini. Tidak adanya filter-filter kebudayaan inilah yang kemudian membuat ide-ide barat diserap mentah-mentah dan menjadi tren.Proses dialetika kebudayaan yang ada harusnya terus menerus dijalankan dengan seimbang, namun kenyataanya proses ini berjalan dengan tidak seimbang, hanya karena mental-mental pemimpin Indonesia yang tidak benar dan mengungkung proses kreativitas dan ide-ide kritis masyarakat sehingga menjadikan kebudayaan Indonesia yang kompleks menjadi bertambah kompleks.
III. DISTORSI KEBUDAYAAN DAN DAMPAKNYA DI INDONESIA
Konkretnya, apakah yang sedang terjadi di Indonesia saat ini? Menurut saya Indonesia saat ini mengalami krisis kebudayaan sendiri. Indonesia terlalu mengandalkan ide-ide dari barat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Hal ini tidak terjadi pada masyarakat kalangan bawah saja, tetapi sampai kepada pemerintah di kalangan elite politik. Negara ini banyak disetir dan dieksploitasi oleh bangsa-bangsa dari luar negeri. Karena memang tidak memiliki kreativitas untuk mengembangkan dirinya sendiri karena kurangnya teknologi, keuangan, dsb. Seharusnya kebudayaan Indonesialah yang menyelamatkan bangsa ini dari jerat bangsa asing yang ingin mengambil keuntungan dari bangsa Indonesia. Namun tidak bisa, karena kebudayaan Indonesia tidak berkembang.Seperti yang dikatakan pada pendahuluan bahwa kebudayaan dapat menghambat atau mempercepat perubahan. Kebudayaan Indonesia yang telah terdistorsi menurut saya menghambat perubahan.


Pembangunan di Indonesia ikut arus yang berorientasi kapitalistik barat, pemerintah mendukung masuknya investor asing tanpa batas, dibangunya mall-mall dan pusat perbelanjaan yang membuat masyarakat menjadi konsumptif. Pemerintah bukannya mendorong sektor-sektor yang lebih fundamental seperti pendidikan dan kebudayaan, malah mendorong sektor yang berorientasi ekonomi secara terus menerus. Tanpa adanya keseimbangan antara budaya dan pembangunan pastilah akan terjadi masalah. Pembangunan sektor pendidikan juga tidak dipacu, banyak anak-anak Indonesia yang masih tidak mampu sekolah karena tidak ada biaya. Seharusnya pemerintah Indonesia membuat pendidikan menjadi murah.


Pada golongan masyarakat yang masih berusia muda seakan-akan tidak memiliki keinginan untuk mengadakan perubahan ini. Kebudayaan asli Indonesia bahkan tidak terlalu diindahkan lagi. Masyarakat Indonesia menjadi masyarakat pengguna ide, pengguna produk, pengguna teori yang datang dari bangsa-bangsa lain. Kita tidak menjadi produsen ide tersebut, tidak menjadi produsen teori-teori dan produk-produk kita sendiri yang memiliki l’originalite image bangsa Indonesia. Produk yang diciptakan adalah kebanyakan imitasi ide-ide barat ataupun Jepang.
Masyarakat muda Indonesia meniru gaya hedonistik orang-orang barat yang negatif untuk perkembangan kebudayaan Indonesia, tapi tidak meniru budaya barat yang produktif dalam penciptaan ide-ide dan kretivitas.Meniru budaya bersenang-senang seperti clubbing di diskotek dan melakukan seks bebas, sebagai dalih pelepas kepenatan setelah bekerja. Masyarakat Indonesia menjadi kosnumptif dengan masuknya HyperMarket besar dari Perancis seperti carrefour atau Makro yang dibawa oleh orang Belanda,atau Hero dari Jepang, belanja di pasar tradisional untuk rata-rata kalangan ekonomi menengah keatas Indonesia tidak menjadi budaya lagi. Jika ini terus terjadi, pasar-pasar tradisional akan terus tergeser.
Kesibukan masyarakat perkotaan yang amat sibuk mengurangi interaksi antar sesama tetangga dalam suatu lingkungan. Orang yang tinggal bersebelahan belum tentu mengenal satu sama lainnya. Hal ini menunjukan budaya individualistik telah menyerap begitu cepat pada kehidupan perkotaan. Hal ini menggeser kebudayaan Indonesia yang bernuansa kekeluargaan.


Masyarakat menengah keatas tidak peduli dengan kesengsaraan saudaranya sendiri, mereka hanya peduli dengan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, mereka membeli rumah-eumah besar dan mobil-mobil mewah seharga milyaran rupiah tapi tidak pernah membantu saudaranya sendiri yang bahkan tidak punya cukup uang untuk membeli baju. Orang-orang membeli handphone seharga sepuluh jutaan lebih sebagai simbol seseorang telah mencapai taraf hidup yang mapan. Padahal belum tentu handphone tersebut secara fungsional digunakan secara total oleh penggunannya. Mereka memakai handphone agar tidak ketinggalan arus masyarakat yang serba mobile, serba sibuk. Penggunaan HandPhone ini menjadi tren bahkan sampai masyarakat menengah kebawah berlomba-lomba mendapatkan handphone low-end yang memang sengaja diciptakan dan dipasrkan bagi masyarakat kelas menengah kebawah ini.
Dengan menggunakan produk-produk asing, masyarakat Indonesia merasa bahwa mereka masuk dalam budaya global, budaya MTV (Music Television) dari Amerika Serikat -yang membawa ide-ide Amerika Serikat melalui musik-musik yang kontomporer. Bagaimanakah nasib kebudayaan tradisional dengan musik-musik daerahnya jika orang-orang di perkotaan sudah mulai melupakan mereka? Jika hal ini terus terjadi tanpa ada perhatian dari pemerintah, maka musik-musik daerah akan punah.


Makan makanan junk food yang dibawa oleh perusahaan-perusahaan asing menyebarkan ideologi-ideologinya melalui makanan yang katanya khas Amerika Serikat seperti McDonald’s, Kentucky Fried Chicken, Pizza Hut dan sebagainya. Restaurant-restaurant seperti ini tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia. Dengan makan makanan ini masyarakat akan merasa juga bahwa mereka adalah anggota komunitas global. Padahal menurut penelitian yang banyak dilakukan. Makanan ini tidak sehat karena berkolesterol tinggi.


Meminjam istilah jurnalis majalah Time,Thomas L Friedman yakni Electronic Herds atau kawanan elektronik yang berupa perusahaan-perusahaan asing dengan produk-produknya dan institusi asing dengan timbunan dana keuangannya ini dapat melibas apa saja di negara-negara berkembang, juga kebudayaan dapat juga dilibas tanpa adanya filter yang cukup kuat. Libasan Kawanan dapat mengakibatkan kebudayaan dan lingkungan mereka masuk kedalam gumpalan dunia. Jika negara tidak dapat melakukanya, terutama negara berkembang, kita semua akan menjadi dimiskinkan. Dimana-mana akan mulai seperti di tempat lainnya, dengan Taco Bell, KFC, dan JW Marriots yang sama, dengan mall, MTV dan karakter Disney yang sama, dengan tontonan, musik dan muzak yang sama, dengan hutan gundul dan lembah beton yang sama. Mengelilingi dunia akan menjadi seperti pergi ke kebun binatang dan melihat binatang yang sama di setiap kandang (binantang isian).


[6]
Masyarakat Indonesia khususnya di perkotaan tidak memiliki sense of their own culture karena mereka merasa dengan mengikuti budaya barat, mereka masuk kedalam komunitas global yang prestigious, mereka tidak mau dikatakan ketinggalan jaman, hal ini semua dilakukan dengan imitasi total. Gaya hidup orang barat yang sebenarnya tidak pantas dan kontras dengan kebudayaan Indonesia dengan total ditiru.Karena desakan ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan dasar (bagi masyarakat menengah kebawah) dan pemenuhan kebutuhan sekunder (bagi masyarakat menengah keatas). Masyarakat terus menerus mencari uang sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan ini. Hal ini mempunyai dampak yang buruk karena masyarakat tidak lagi ingin belajar, semuanya dilakukan hanya untuk mencari uang dan memenuhi kebutuhannya. Esensi dari hidup ini bukanlah lagi untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya tetapi mencari uang.


Institusi-institusi pendidikan tinggi melihat fenomena ini dan bukanya mengantisipasi dengan mendirikan fakultas-fakultas yang mengembangkan ilmu lebih dalam, tapi mendirikan fakultas-fakultas ilmu terapan yang siap pakai demi memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin mencari uang lebih dan memerlukan ijasah. Berbagai gelar-gelar akademis ditawarkan, hanya gelar belaka tanpa esensi yang mendalam dari usaha mendapat gelar itu, tanpa esensi penceraian pengetahuan yang lebih dalam yang terkandung didalam ijasah yang didapat. Ijasah dan gelar dikejar sebagai batu loncatan untuk bekerja di tempat yang lebih baik dan memiliki taraf hidup yang lebih baik.


Anak-anak dan orang dewasa tidak memiliki budaya membaca buku teks yang baik karena lebih tertarik untuk menonton televisi, mendengarkan radio, bermain video games melalui internet
[7]
, dan membaca komik serta majalah. Budaya membaca buku-buku teks yang berkualitas sesungguhnya sangatlah baik untuk mengembangkan ide-ide dan kreativitas anak dan orang dewasa supaya lebih berkembang. Namun anak-anak lebih memilih komik-komik Jepang. Bahkan komik dari Indonesia pun tidak laku dipasaran. Budaya menonton film-film asing dalam VCD, DVD, (bajakan) yang murah dan dapat dibeli segala kalangan juga membuat anak-anak menjadi malas belajar.


Demokrasi dan keterbukaan di era reformasi menyebabkan suatu kebebasan yang kelepasan. Masyarakat benar-benar merasa bebas dari belenggu orde baru selama 30 tahun dan merasa bebas untuk melakukan apa saja. Demokrasi di Indonesia menjadi demokrasi yang kebablasan, tidak terkontrol oleh pemerintahan. Masyarakat mempunyai stigma-stigma buruk terhadap kebudayaan yang dulu pernah diajarkan disekolahnya sebagai suatu fraud atau penipuan karena trauma oleh propaganda politik yang membuat budaya hanya dijadikan sebagai alat politik. Kebebasan dianggap sebebas-bebasnya sehingga banyak media-media membawa pesan yang tidak pantas dengan menerbitkan majalah-majalah dan koran-koran yang berisi hal yang tidak senonoh yang tidak pantas dilihat oleh anak-anak, tetapi toh terlihat juga pada akhirnya. Hal ini menyebabkan tingginya angka kriminalitas dan pelecehan seksual terhadap orang lian (khususnya perempuan). Demokrasi harus memiliki batas-batas konstitusional, hal inilah yang menjadi tugas pemerintah.


Kesimpulan dari bab III ini adalah betapa banyak contoh-contoh yang dapat diambil tentang distorsi budaya barat kedalam kebudayaan Indonesia. Konsekuensi dari distorsi ini dapat berupa konsekuensi yang long term dan yang short term. Konsekuensi long term dapat berupa inferioritas yang berkelanjutan yang terjadi antara bangsa barat sebagai pencipta ide dan bangsa kita sebagai pengguna idenya. Ide-ide yang dipakai oleh bangsa kita pun bukan ide baru dari mereka, melainkan ide-ide lama yang di negeri mereka pun sudah ketinggalan zaman. Hal ini jelas akan merugikan karena kita akan selalu tergantung pada mereka. Yang lainnya adalah menurunnya moral bangsa yang tidak stabil dan mudah terpengaruh. Konsekuensi short term-nya sudah pasti lebih banyak lagi; konsumersime, budaya hedonistik, pembodohan masyarakat, dsb. Jadi betapa distorsi kebudayaan sangat merusak budaya Indonesia, karena tidak adanya filter kebudayaan.
IV. Apa yang dapat diperbuat sebagai jawaban atas distorsi kebudayaan yang terjadi di masyarakat Indonesia.


Banyak hal yang harus dilakukan untuk menjawab distorsi kebudayaan yang terjadi di Indonesia. Saya akui memang poin-poin yang saya paparkan tidak komprehensif dan agak utopis namun saya percaya beberapa aspek-aspek ini penting peranannya dalam meninjau ulang dan mengembangkan kebudayaan Indonesia secara berkesinambungan. Tidaklah cukup hanya pemerintah saja yang bertindak, segenap aspek dalam elemen masyarakat juga harus ikut campur, jika tidak segalanya tidak akan mungkin berjalan dengan benar dan kita akan terus dalam kondisi yang seperti ini.


Hal pertama yang saya tekankan harus dilakukan adalah perbaikan struktur pemerintahan dan stabilisasi politik serta peningkatan taraf hidup masyarakat melalui stabilisasi ekonomi. Tanpa adanya perbaikan struktur pemerintahaan yakni dengan adanya good government atau pemerintahan yang bersih, bebas korupsi, kolusi dan nepotisme. Dengan memiliki wakil-wakil pemerintahan yang berisikan elit-elit politik yang memang rela mati-matian membangun negeri ini tanpa mengutamakan kepentingan pribadinya. Mustahil segala usaha yang dilakukan untuk memperbaiki kebudayaan yang telah tercemar. Sama halnya dengan stabilisasi politik. Stabilisasi politik yang berupa integrasi negara ini tanpa adanya gangguan internal akan menciptakan situasi kondusif untuk mengedepankan kebudayaan. Jika situasi negara tidak stabil, pemerintah pasti tidak memiliki waktu untuk mengurus hal-hal yang menurut mereka tidak lebih penting dari kesatuan nasional. Stabilisasi ekonomi juga harus dilakukan terlebih dahulu, dengan ekonomi yang tidak stabil, masyarakat akan selalu didalam kondisi yang tertekan untuk mencari uang untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya dan mengesampingkan hal yang lainnya. Hal ini juga akan menciptakan situasi yang tidak kondusif. Perbaikan Ekonomi akan berimbas pada posisi tawar-menawar bargaining position pemerintah dengan pihak asing untuk menolak atau menerima tawaran mereka yang disertai embel-embel yang merugikan masyarakat Indonesia.


Hal kedua yang harus dilakukan oleh pemerintah menurut saya adalah bidang pendidikan. Pendidikan di Indonesia harus dibenahi sejak dini, karena melalui pendidikanlah masyarakat dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Hanya saja karena mutu pendidikan yang rendah, jarak waktu bagi masyarakat Indonesia untuk mengetahui yang benar atau yang salah agak lama. Pendidikan harus didapatkan dengan biaya murah, bahkan lebih ekstrem lagi; gratis. Karena pendidikan harus dapat dijangkau oleh semua kalangan.


Pendirian institusi pendidikan yang murah dan berkualitas harus menjadi prioritas utama, pendirian perpustakaan umum yang lengkap harus diutamakan daripada mendirikan mall-mall yang membuat masyarakat menjadi konsumptif. Pemerintah harus membut kebijakan tentang buku-buku. Buku harus didapatkan dengan harga murah. Baik buku impor maupun lokal. Karena buku adalah sumber informasi yang sangat berharga.
Budaya Indonesia yang positif harus mulai diajarkan lagi dan diperkenalkan lagi dalam mata pelajaran di sekolah-sekolah dengan cara belajar yang berbeda dan interaktif, tidak otoriter dan monoton seperti yang sering dialami di Indonesia. Budaya barat yang positif juga harus dimasukan kedalam kurikulum sekolah-sekolah sejak sekolah dasar yakni budaya membaca, menulis, disiplin, critical thinking, pengembangan kreativitas dan ide-ide dari pelajar yang dididik.


Budaya membaca buku-buku teks yang penting juga harus diajarkan dan diterapkan, pelajar harus terbiasa dengan buku-buku berstandar internasional, meringkas buku-buku tersebut, mendapat esensinya, dan menuliskannya lagi dengan cara pandang mereka yang telah terbentuk oleh cultural framework Indonesia. Mendorong mereka untuk menghasilkan ide-ide original dari apa yang telah mereka pelajari. Jadi disini ada keseimbangan antara kultur budaya sendiri seiring dengan budaya asing yang masuk.


Ide-Ide dan kreativitas pelajar serta mahasiswa tidak boleh berhenti sampai disitu, harus berkesinambungan, kesinambungan ini dapat didapat dan dituangkan melalui ajang-ajang intelektual yang sengaja dibuat oleh institusi pendidikan dan pemerintah sebagai pendorong para anak-anak didik untuk berpikir kritis. Ide-ide yang tertampung harus disalurkan lagi; sebagai contoh: jika ada ide tentang masalah sosial, setidaknya ide tersebut dapat ditampung dan direalisasikan berdasarkan pertimbangan pemerintah; atau misalnya ada ide tentang teknologi, hal ini juga dicoba untuk diterapkan, sehingga ada rewards dan hasil yang didapat oleh pencapaian ide dan kreativitas tersebut. Hal ini akan membuat para pelajar akan semakin tertantang untuk menuangkan ide-idenya secara lebih kreatif.


Hal lain yang penting dari pendidikan adalah peran guru dan tenaga pengajar. Seringkali posisi mereka dilupakan. Guru dan pengajar harus disejahterakan. Hal ini perlu dilakukan karena dengan kesejahteraan mereka, akan menjadi insentif bagi mereka untuk menjalani profesinya dengan professional, tidak hanya sebagai ajang mencari uang. Tapi untuk meneliti bagaimana seharusnya cara belajar-mengajar yang efektif, melakukan penelitian ilmiah, serta memberikan waktunya secara penuh untuk menyumbangkan tenaga dan idenya kepada dunia pendidikan dan pelajar yang mereka didik.


Dengan penekanan kebudayaan Indonesia dalam sistem pendidikan yang kreatif, anak didik diharapkan akan memiliki filter kebudayaan yang terbangun diantara mereka, baik itu disekolah, dikampus, dirumah ataupun ditengah-tengah masyarakat. Anak didik dapat memilah mana budaya asing yang baik yang pantas diikuti dan mana budaya asing yang buruk dan tidak pantas untuk ditiru.


Hal yang ketiga adalah pengkajian ulang budaya asing yang telah masuk dan mendistorsi kebudayaan Indonesia. Pemerintah harus memilah-milah mana budaya yang dapat atau boleh ditiru atau tidak. Pemerintah harus mempartisi budaya barat yang masuk ke Indonesia dengan mendirikan pusat pengkajian budaya asing. Dimana tugas dari pusat kajian ini adalah untuk menyaring dan menganalisa budaya asing yang masuk ke Indonesia sehingga dapat diindikasikan mana budaya yang dapat diserap dan mana yang tidak.


Hasil analisa kajian budaya asing tidak hanya berputar-putar di pemerintahan, tetapi juga harus kembali dilempar ke public audience dan kalangan akademisi serta intelektual. Konsekuensinya adalah bahwa kajian yang ada menjadi debatable dan dikaji lagi. Hasil-hasilnya akan menjadi input untuk pemerintah dalam pembuatan kebijakan yang berhubungan dengan kebudayaan dan masalah sosial.


Hal yang keempat. Pemerintah harus selalu meng-update situasi dan kondisi penerimaaan dan daya serap masyarakat untuk mensosialisasikan usaha pengembangan kebudayaan Indonesia sebagai suatu kepentingan bangsa yang urgent . Hal ini harus dilakukan kepada setiap golongan masyarakat, berbagai aspek dan elemen masyarakat Indonesia sendiri. Kemasan dari sosialisasi ini harus dikemas dengan cara yang berbeda agar tidak menjemukan. Contoh; Jika masyarakat lebih cenderung menonton televisi, maka pendekatan yang harus dilakukan adalah melalui televisi, lebih spesifik lagi melalui iklan-iklan. Iklan ini harus dibuat semenarik mungkin dan sekreatif mungkin dan ditayangkan sesering mungkin agar secara tidak langsung iklan tentang pengembangan kebudayaan akan diserap oleh masyarakat.


Hal yang kelima dan yang paling penting adalah keberanian pemerintah dan masyarakat Indonesia sendiriuntuk melakukan semua hal diatas, keberanian dan kemauan untuk melihat perubahan pada apa yang telah terjadi pada budaya bangsa ini. Kebudayaan yang sesungguhnya menyimpan banyak keindahan, kebaikan, keagungan, yang terkamuflase oleh infiltrasi budaya lain yang masuk dan menyerang pilar-pilar kebudayaan Indonesia.


V.Kesimpulan
Akhir kata dari essai singkat ini adalah bahwa realita yang berbicara bahwa kebudayaan Indonesia memang terdistorsi oleh budaya asing yang negatif yang masuk dan menyerang kebudayaan original Indonesia yang memang tidak berkembang sejak zaman kolonial Belanda. Haruslah disadari dan dilakukan secepatnya, proses tinjauan kebudayaan Indonesia dan pengembangannya agar Indonesia tidak selalu menjadi inferior dibandingkan negara-negara lainnya. Agar Indonesia tidak selalu ketinggalan dan terus mengekor pada buntut negara lain pencipta ide-ide brilian yang sebenarnya manusia Indonesia yang diciptakan Tuhan sama dapat menghasilkannya. Pengembangan dan pengkajian kebudayaan di Indonesia harus menghasilkan sesuatu yang flexible dalam artian dapat diterima oleh segala aspek masyarakat, dapat berdiri pada posisi netral dan tidak menimbulkan posisi dilematis bagi bangsa Indonesia sendiri sehingga Indonesia dapat menggunakan kebudayaannya sebagai perisai dan pelindung dalam menjawab tantangan zaman yang semakin menglobal.


DAFTAR PUSTAKA
Friedman, Thomas. L Memahami Globalisasi: Lexus dan Pohon Zaitun. Bandung: Penerbit ITB, 2002
Mulder, Niels. Indonesian Images; The culture of the Public World. Jakarta: Kanisius, 2000
Sarjono, Agus R. (editor) Sejumlah Gagasan Di Tengah Taman Ismail Marzuki: Pembebasan Budaya-Budaya Kita. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 1999
Zakaria, Fareed. Masa Depan Kebebasan: Penyimpangan Demokrasi di Amerika dan Negara Lain Jakarta: PT, Ina Publikatama, 2004
Encyclopaedia Britannica 2002
——————————————————————————–
[1]
Encyclopaedia Britannica 2002
[2]
Fareed Zakaria, Masa Depan Kebebasan “Penyimpangan Demokrasi di Amerika dan Negara Lain ter. PT. Ina Publikatama, Jakarta ,2003 hlm 53-55
[3]
Dalam hal ini saya tidak menjudge bahwa kebudayaan barat merupakan kebudayaan yang total negatif, tetapi betapa masyarakat Indonesia tidak memiliki saringan yang cukup dari kebudayaannya sendiri untuk mengambil mana yang pantas diikuti dan tidak. Dapat dilihat dari budaya hedonistik (budaya kesenangan) barat yang ditiru mentah-mentah oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat tidak dapat menganalisa budaya asing tersebut terelebih dahulu karena kurangnya pengetahuan dan informasi tentang hal itu.


[4]
Mochtar Lubis “Situasi dan Akar Budaya Kita” Temu Budaya 86 TEATER TERTUTUP -TIM 16-18 Oktober 1986 Pembebasan Budaya-Budaya Kita (Sejumlah Gagasan Di Tengah Taman Ismail Marzuki) Editor:Agus R Sarjono. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 1999
[5]
Niels Mulder, Indonesian Images “The Culture of the Public World” Kanisius, 2000, hlm 159
[6]
Thomas L Friedman, Memahami Globalisasi Lexus dan Pohon Zaitun, terj. Penerbit ITB, 2002 hlm276-277
[7]
Melihat fenomena game online Ragnarok, yang menyebabkan anak-anak menjadi malas sekolah dan kecanduan. Sehingga banyak yang tidak naik kelas.